Surabaya

Kota Pahlawan

-

-

-

-

-

-

Jembatan SuraMadu

Suasana Jembatan SuraMadu Dimalam Hari

17 Juli 2013

Investor Ragu, Saham-saham Wall Street Turun

Pialang sedang mengamati transaksi saham di Bursa Efek New York.
Saham-saham di Wall Street ditutup melemah pada bursa Selasa, waktu Amerika Serikat, setelah berbagai laporan mengenai data perekonomian dan keuangan perusahaan dirilis.
Investor cenderung ragu-ragu untuk melakukan lompatan lebih jauh menjelang Ketua Federal Reserve, Ben Bernanke, menyampaikan kesimpulan atas hasil rapat kongres.

Seperti diberitakan CBNC, indeks Dow Jones Industrial Average turun 32,41 poin sehingga berakhir pada level 15.451,85. Penurunan indeks Dow diseret oleh saham Coca-Cola dan Walt Disney.

Indeks S&P 500 kehilangan 6,24 poin dan ditutup pada level 1.676,26. Sedangkan indeks Nasdaq merosot 8,99 poin menjadi berakhir pada level 3.598,50. Kedua indeks ini mengakhiri reli selama 8 hari beruntun.

Saham-saham sektor kunci S&P sebagian besar ditutup dalam posisi merah. Penurunan paling tajam terjadi pada saham energi dan material.

Adapun saham Coca-Cola, merosot setelah produsen minuman yang mendunia itu membukukan penjualan yang lebih lemah dari perkiraan. Kelesuan ekonomi dan cuaca yang sangat dingin dituding sebagai penyebab penjualan itu menurun.

Goldman Sachs yang termasuk lembaga keuangan besar di AS melaporkan laba per saham sebesar US$3,70, jauh diatas perkiraan US$2,82. Pendapatan juga lebih baik dari ekspektasi. Namun, sahamnya justru bekebalikan, berakhir melemah.

Johnson & Johnson membukukan laba kuartalan dan pendapatan yang melampaui ekspektasi, berkat penjualan yang kuat pada obat dan peralatan medis. Tetapi sahamnya berakhir datar.

"Kami tahu pendapatan di kuartal kedua tidak akan menjadi sangat baik, kami juga tahu pertumbuhan PDB di kuartal kedua tidak sangat baik, tapi ada sedikit optimisme yang terbangun dalam setengah tahun belakangan. Kami hampir seluruhnya fokus pada apa yang harus dikatakan perusahaan dari laporan semester kedua tahun ini serta apa artinya bagi harga saham," ujar Dan Greenhaus dari BTIG.

Investor menantikan apa yang akan disampaikan oleh Ben Bernanke pada hari Rabu. Mereka berharap bisa mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan stimulus moneter dari bank sentral AS itu.

"Dalam beberapa pekan terakhir, pesan yang disampaikan dia adalah The Fed melihat tanda-tanda perbaikan dalam ekonomi AS dan bank sentral akan memperketat kebijakan moneternya. Jadi, saya pikir pasar akan berhati-hati menjelang terstimoni Bernanke," kata Robert Rennie, analis di Westpac,

Sementara itu, Presiden Fed Kansas City, Esther George, mengatakan bahwa bank sentral harus mulai mengurangi program pembelian obligasi yang besar-besar. Hal ini dianggap sebagai sinyal bahwa pada semester pertama tahun depan The Fed akan menarik kembali program stimulus moneternya.

Sedotan Mengandung Zat Berbahaya Beredar di China


Ilustrasi sedotan


Pemerintah China memperingatkan akan adanya sedotan yang mengandung zat berbahaya. Sedotan itu dibuat tidak melalui pemeriksaan standar kualitas dan memalsukan logo aman di kemasannya.

Diberitakan Asia One, Selasa 16 Juli 2013, setiap sedotan di China sebelumnya harus melalui pengujian sebelum mendapatkan logo aman dari departemen kesehatan. Namun, sedotan berbahaya ini diproduksi oleh pabrik yang tidak terdaftar dan memalsukan logo tersebut.

"Di toko grosir, kami menemukan logo tersebut sulit dibaca dan mudah dihapus," kata Lou Zhongping, saat menginspeksi toko di Yu Garden, Shanghai, awal Juli lalu.

Dalam temuannya, hanya 10 persen sedotan yang lolos kualifikasi standar aman. Sedotan berbahaya ini tetap dijual walaupun sebelumnya petugas memerintahkan pihak toko menariknya dari rak.

Sedotan warna-warni itu dikhawatirkan mengandung zat berbahaya, karena tidak diketahui bahan pembuatnya. Menurut ahli makanan, zat dalam sedotan bisa larut di dalam air dan berbahaya jika terminum.

Penyakit yang mungkin timbul adalah penyakit pada sistem pencernaan, kerusakaan organ seksual, kemandulan atau bahkan kanker.

Pemerintah China memang tengah gencar memberantas barang palsu berbahaya di pasaran menyusul ditemukannya kandungan melamin pada susu formula bayi beberapa tahun lalu. Saat itu, sebanyak 1.253 balita jatuh sakit setelah minum susu tersebut, dua di antaranya meninggal dunia.

China juga merupakan produsen obat palsu terbesar di dunia. Agustus tahun lalu, sekitar 18.000 aparat di China dikerahkan menggerebek pabrik obat palsu dan menahan 2.000 pelaku. Sebanyak 1.100 pabrik obat tersebut dihancurkan. Obat palsu yang disita diduga bernilai sekitar US$180 juta atau setara Rp267 miliar. (eh)

Reli Wall Street Berakhir Gara-gara Koreksi Saham Coca-Cola

 http://images.detik.com/content/2013/07/17/6/walis.jpg
New York - Indeks S&P 500 mengakhiri reli 8 hari gara-gara pelemahan saham Coca-Cola. Investor di Wall Street juga semakin berhati-hati jelang pengumuman The Federal Reserve.

Koreksi di pasar modal Paman Sam ini terjadi setelah dua dari tiga indeks utamanya, yaitu Dow Jones dan S&P 500, mencetak rekor tertinggi sepanjang masa kemarin.

Perdagangan masih di bawah rata-rata transaksi harian yaitu hanya 5,5 miliar lembar saham yang diperdagangkan. Volume transaksi ini masih di atas kemarin 4,91 miliar lembar saham.

Saham Coca-Cola jadi penyeret koreksi di S&P 500 setelah produsen minuman ringan terbesar di dunia itu mengumumkan adanya penurunan omzet gara-gara krisis ekonomi serta cuaca yang dingin.

"Saya rasa akan banyak perusahaan yang mengumumkan pendapatannya hampir mendekati target atau bahkan lebih kurang, itulah gambaran yang terjadi di ekonomi kita (AS) saat ini," kata Brian Amidei, managing director dari HighTower Advisors in Palm Desert, California, dikutip Reuters, Rabu (17/7/2013).

Pada penutupan perdagangan Selasa waktu setempat, Indeks Dow Jones berkurang 32,41 poin (0,21%) ke level 15.451,85. Indeks Standard & Poor's 500 melemah 6,24 poin (0,37%) ke level 1.676,26. Indeks Komposit Nasdaq turun 8,99 poin (0,25%) ke level 3.598,50.

Harga Emas Mulai Pulih, Saatnya Beli?

http://images.detik.com/content/2013/07/17/4/072030_emasreutersdepan.jpg
Jakarta - Harga emas sudah anjlok cukup dalam beberapa bulan terakhir ini. Tapi dalam enam hari terakhir, harga logam mulai di pasar internasional sudah mulai membaik, naik 5,8%.

Kenaikan ini terjadi setelah harga emas anjlok dalam empat pekan berturut-turut. Apakah sekarang ini saat yang tepat untuk beli emas? Beberapa analis menilai ini bisa jadi momentum baru untuk penguatan emas.

"Harga emas sedang dalam proses mencari titik terendah," kata Jeff Nichols, managing director dari American Precious Metals Advisors dikutip dari CNN, Rabu (17/7/2013).

Sejak April lalu, investor global sudah berlomba-lomba melepas emas dan masuk ke bursa saham yang memberi kepastian hasil investasi lebih tinggi.

Harga emas memang sudah sangat jatuh jika dibandingkan rekor tertingginya di level US$ 1.900 per ounce pada 2011 silam. Saat ini harga emas dunia berada di kisaran US$ 1.284 per ounce, masih rendah 24% dari harga di awal tahun ini.

Jatuhnya harga emas ini terkait dengan kekhawatiran akan dicabutnya program stimulus di Amerika Serikat (AS) oleh bank sentral setempat, The Federal Reserve. Program stimulus ini yang membuat emas menjadi seksi di mata investor karena lindung nilainya bisa bertahan terhadap inflasi.

Investor sudah berlomba-lomba memburu emas sejak krisis 2008 karena percaya The Fed akan memperkuat nilai tukar dolar terhadap mata uang dunia dengan program stimulusnya sehingga membuat harga-harga terus naik, ujung-ujungnya harga emas juga naik terus.

Selain kekhawatiran dicabutnya stimulus, harga emas juga tertekan melambatnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang, termasuk China dan India. Kedua negara ini merupakan pembeli emas paling rajin di dunia.

Meski demikian, beberapa investor veteran melihat anjloknya harga emas ini sebagai kesempatan dalam kesempitan. Investor jangka panjang merasa ingin mengkoleksi logam kuning ini sebanyak-banyaknya sambil menunggu harganya kembali pulih.

Nichols dari American Precious Metals Advisors yakin harga emas akan kembali mencetak rekor tertingginya dalam tiga sampai lima tahun ke depan. Maka dari itu ia meminta investor untuk bersabar.

"Masih belum jelas kapan emas akan balik arah menanjak lagi," ujarnya.

BBM Bermasalah, Apa Tanggapan Bos BlackBerry?

http://images.detik.com/content/2013/07/17/328/bosbb460.jpg
Jakarta - Bos BlackBerry Indonesia akhirnya buka suara soal gangguan layanan BlackBerry Messenger (BBM) yang sempat membuat kesal jutaan penggunanya di Indonesia, belum lama ini.

Pernyataan yang disampaikan oleh Maspiono Handoyo, Managing Director BlackBerry Indonesia ini sekaligus merespons statement Menkominfo Tifatul Sembiring dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).

Berikut kutipan lengkap dari pernyataan BlackBerry yang diterima detikINET, Rabu (17/7/2013) dalam menyikapi keluhan pelanggannya:

"Kami sangat menghargai kepercayaan dan kesetiaan dari pengguna terhadap BlackBerry dan juga layanan BBM yang terus berkembang di Indonesia selama sekitar 9 tahun.

Kami berkomitmen untuk memastikan layanan dapat dinikmati dengan baik sesuai dengan harapan pengguna kami.

Dan kami juga berkomitmen untuk bekerjasama dengan semua lokal operator partner kami untuk memberikan komunikasi yang transparan dan cepat dengan pengguna sehingga pengguna kami selalu mendapatkan informasi ketika terjadi gangguan layanan BlackBerry.

Saat ini kami fokus untuk terus meningkatkan kepercayaan pengguna terhadap layanan kami."

Sanksi Denda

Terkait masalah tumbangnya jaringan layanan BlackBerry, BRTI seperti diberitakan sebelumnya sempat mengusulkan agar vendor asal Kanada ini diberi sanksi denda sebagai kompensasi.

Jika layanan BlackBerry bermasalah minimal empat jam dalam sehari, tiap pelanggan diusulkan untuk mendapatkan kompensasi ganti rugi sebesar Rp 1.000.

Jika diasumsikan ada 15 juta pelanggan aktif di Indonesia, maka BlackBerry harus memberikan kompensasi Rp 15 miliar dalam bentuk refund pulsa yang dikembalikan melalui mitra operatornya. Angka denda ini sebenarnya masih menguntungkan BlackBerry karena masih di bawah harga services yang dikenakan ke pelanggan.

Jika dari 15 juta pelanggan itu minimal memanfaatkan paket BlackBerry Internet Services (BIS) harian Rp 5 ribu, misalnya, berarti gross omzet yang dihasilkan BlackBerry dan mitra operatornya bisa mencapai Rp 90 miliar per hari.

Namun usulan formulasi denda yang disampaikan kurang mendapat respons positif dari Menkominfo, karena menurutnya tidak ada aturan yang mengharuskan BlackBerry untuk didenda. "Aturan apa BRTI main denda-denda saja," tandas Tifatul saat dikonfirmasi.

Pernyataan menteri pun disambut baik oleh pihak BlackBerry, meskipun jaringan layanannya telah tercatat Kominfo mengalami gangguan sebanyak empat kali dalam setahun terakhir.

Spekulasi the Fed Tekan Emas

130625_emas-batangan-1.jpg
JAKARTA— Nilai emas turun untuk hari ketiga setelah kekhawatiran penaikan harga pada minggu lalu dapat mengurangi pembelian fisik, sementara investor masih menimbang langkah Federal Reserve AS terhadap stimulus moneter.
Ariston Tjendra, Kepala Riset PT Monex Investindo Futures mengatakan, harga emas masih menunggu event besar pekan ini, yang akan berlangsung pada hari Rabu dan Kamis, pasar akan fokus pada testimoni Gubernur Federal Reserve, Ben Bernanke di hadapan Kongres AS.
“Pada bulan sebelumnya, testimoni Bernanke berhasil memberikan volatilitas bagi pasar keuangan. Menyebabkan harga emas tidak meneruskan penguatannya dan bergerak dengan volatilias yang lebih kecil dari biasanya,” ujarnya, Selasa (16/7/2013).
Menurut Ariston, data CPI Amerika Serikat bisa menjadi penggerak harga emas. Jika inflasi menunjukkan penaikan yang cukup signifikan, maka dapat mendorong pelemahan
harga emas karena dolar AS yang menguat.
“Namun bila kenaikan inflasi moderat atau biasa saja, pergerakan harga emas masih akan tetap flat dan cenderung turun.” Lukman Leong, analis PT Platon mengatakan, harga emas diperdagangkan di range bound dalam sepekan terakhir setelah berhasil melewati resistance di US$1.270 per ounce. Setelah pertemuan the Fed minggu lalu, tidak
ada data penting yang memberikan kejutan kepada pasar.
“Technical range trading saat ini adalah di level support US$1.267, US$1.280 dan resistance US$1.300. Sebenarnya emas memiliki kesempatan untuk naik ketika rilis data GDP China pada Senin, tapi data tersebut tidaklah terlalu jelek,” ujarnya pada Bisnis, Selasa (16/72013).
Menurutnya “Bad news is a Good news for Gold”, kurang lebih keadaan yang paling cocok untuk emas saat ini. Data ekonomi yang jelek akan memicu kebijakan longgar dari bank sentral yang akan melemahkan mata uang.
“Berita yang jelek juga akan memicu sentimen dan risk aversion dimana investor akan melakukan flight to safety dengan membeli emas,” kata Lukman.
Dia menambahkan, investor akan menanti hasil pada Rabu (17/7/2013) dan Kamis (18/7/2013) di mana The Fed akan merilis laporan semi tahunan yang akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai ekonomi di Amerika Serikat.
Nilai emas spot turun sebanyak 0,6% menjadi US$1.277,29 per ounce, dan diperdagangkan di US$1.281,12 pada Selasa (16/7) pukul 14.24 di Singapura. Harga naik ke level tertinggi sejak 24 Juni menjadi US$1.298,73 pada 11 Juli, setelah Gubernur the Fed Ben S. Bernanke menyatakan akan mempertahankan pembelian aset. (ltc)

Source : Bisnis Indonesia (17/7/2013)
Editor : Linda Teti Silitonga

Bursa Asia Jatuh, indeks MSCI Asia Pacific Dibuka Turun 0,1%

130604_bursa asiaok.jpg
JAKARTA—Bursa Asia jatuh, dengan indeks acuan regional melemah dari rekor tertingginya dalam tujuh pekan.
Hal itu terjadi setelah nilai tukar yen meningkat, laba Coca-Cola Co menurun, dan pejabat Federal Reserve memangkas stimulus AS.
Indeks MSCI Asia Pacific turun 0,1% ke level 135,81 pada pukul 09:25 waktu Tokyo atau pukul 07:25 WIB, sebelum bursa Hong Kong dan China dibuka.
“Bursa saham di Jepang dan AS butuh koreksi cepat. Investor menarik kembali optimisme outloook kinerja AS,” ujar Hiroichi Nishi, Equities Manager SMBC Nikko Securities Inc, seperti dikutip Bloomberg.
Saham Canon Inc turun 1,2%, Billabong International Ltd turun 36%, Tokyo Electric Power Co turun 2,9%.
Source : Bloomberg
Editor : Nurbaiti

Sempat Melonjak, Harga Emas Comex Turun Tipis Pagi Ini (17/7)

130625_emas-batangan-1.jpg
JAKARTA—Meskipun sempat menguat tajam, harga emas di bursa komoditas New York acuan Comex Gold Bloomberg melemah menuju pukul 06:00 WIB pagi ini.

Pada Selasa (16/7/2013) pukul 16:33 waktu New York atau Rabu pagi (17/7/2013) pukul 03:00 WI B, harga emas untuk kontrak Agustus 2013 naik US$0,23/gram ke level US$41,49/gram.

Selanjutnya, pada pukul 04:15 WIB, harga emas menguat US$0,22/gram ke level US$41,48/gram. Namun, pada pukul 05:46, harga emas berbalik arah dan turun US$0,01/gram ke level US$41,47/gram.

Jika dikonversikan ke rupiah dengan mengacu kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa (16/7/2013) sebesar Rp10.036, harga emas melemah Rp129/gram ke Rp416.237/gram.

Pergerakan Harga Emas* Comex Rabu 17 Juli 2013
Harga           Perubahan     WIB
US$41,49      +US$0,23      03:33
US$41,48      +US$0,22      04:15
US$41,47      -US$0,01       05:46
Sumber: Bloomberg
Ket: *) Kontrak Agustus 2013
Editor : Hery Lazuardi

Index STOXX 600 Ditutup Turun 0,7%

130617_bursa-eropa-2.jpg
JAKARTA—Bursa saham Eropa turun dari level tertingginya selama hampir 6 pekan setelah keyakinan investor Jerman secara tidak disangka menurun pada bulan ini.

Indeks Stoxx Europe 600 jatuh 0,7% ke level 295,31. Indeks reli 5,6% tiga pekan sebelumnya ditopang optimisme bank sentral seluruh dunia yang akan tetap mendukung pemulihan ekonomi.

“Saya rasa peningkatan risiko poIitik di zona Euro dalam beberapa pekan kedepan menjadi fokus investor,” ujar Witold Bahrke, Senior Strategist PFA Pension A/S di Copenhagen, seperti dikutip Bloomberg.

Data menunjukkan, keyakinan investor Jerman jatuh secara tak terduga pada Juli.
ZEW Center untuk European Economic Research di Mannheim mengatakan indeks investor dan ekspektasi analis jatuh ke 36,3 pada bulan ini dari 38,5 pada Juni. Ekonom yang disurvei oleh Bloomberg memproyeksi kenaikan hingga 40.

Saham Telecom Italia SpA jatuh ke harga terendah sejak Juli 1997, Invensys Plc turun tajam dalam 3 pekan. Sementara itu saham Rio Tinto Group memimpin penguatan di sektor komoditas.
Editor : Hery Lazuardi