Surabaya

Kota Pahlawan

-

-

-

-

-

-

Jembatan SuraMadu

Suasana Jembatan SuraMadu Dimalam Hari

27 Mei 2013

6 Langkah Bebas Utang!

Jakarta - Utang saat ini menjadi gaya hidup kebanyakan orang, karena hampir separuh masalah yang ditemui pada saat melakukan Financial Check Up di AFC adalah besarnya Debt Service Ratio atau Rasio Cicilan.

Mari kita lihat beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk membuat kita segera keluar dari pola hidup berutang:

1. Jujur pada diri sendiri.
Banyak orang hidup melebihi kemampuannya, berpenghasilan Rp 5 juta namun hidup dengan life style Rp 10 juta, sehingga tidak heran cashflow minus setiap bulan ditutupi dengan hutang kartu kredit, utang KTA, dan berbagai macam utang lainnya. Mungkin orang lain bisa kita bohongi dengan penampilan kita, pakaian, mobil dan gadget yang kita pakai, tapi hanya diri kita yang tahu sebenarnya kondisi keuangan kita.

2. Miliki Tujuan keuangan.
Saat diberi informasi bahwa untuk mencapai Dana Pensiun seorang klien, nilainya ternyata lebih kecil dari cicilan utangnya, ia menjadi lebih semangat untuk segera melunasi utang-utang konsumtif yang dimilikinya, begitu juga halnya dengan orang tua setelah tau berapa jumlah yang harus diinvestasi untuk Dana Pendidikan anaknya mereka menyesal telah menyia-nyiakan uang mereka untuk cicilan utang konsumtif selama ini.

3. Cek Aset yang kita miliki.
Ternyata banyak juga orang yang memiliki aset untuk melunasi utangnya namun memilih tidak melunasi. Coba bayangkan jika kita memiliki uang tunai di tabungan sebesar Rp 50 juta, namun memiliki hutang kartu kredit Rp 10 juta? Kita hanya mendapatkan return 3-4% per tahun, namun harus membayar bunga 2-4% per bulan atau 24-48% per tahun! Gunakan aset untuk melunasi utang dan alihkan cicilan utang anda untuk tabungan dan investasi yang benar.

4. Belajar berkata tidak.
Penawaran saat ini ada di mana-mana, masuk melalui sms, blackberry messenger, telepon, dari mulai menawarkan barang, usaha/bisnis, kartu kredit, investasi, asuransi, hutang KTA, dsb. Pada saat kita tidak bisa menolak sesuatu yang sebenarnya belum tentu kita butuhkan, maka konsekuensinya akan ada biaya yang harus dikeluarkan, dan bertambah sulit jika pembayaran dilakukan dengan autodebet credit card. Utang konsumtif bertambah tanpa akses dari kita dan rutin. Jadi tegaslah berkata tidak, lakukan transaksi di mana anda yang memiliki inisiatif.

5. Belajar berkata cukup.
Jika membeli satu barang saja sudah cukup maka kita tidak perlu membeli selusin barang yang sama, dengan alasan selagi ada diskon bagi pemegang kartu kredit tertentu. Diskon akan selalu ada, jadi tidak perlu kuatir, karena buat apa menumpuk barang yang belum tentu digunakan dalam waktu dekat bahkan kemungkinan bisa expired karena terlalu lama disimpan, ditumpuk dalam lemari atau gudang.

6. Tingkatkan penghasilan/income.
Terkadang untuk menjadi kreatif perlu tantangan, beban berat dari hutang sebenarnya bisa membuat seseorang menjadi lebih kreatif untuk mencari alternatif income tambahan yang bisa dimulai dengan usaha yang tidak memerlukan modal besar misal: bisnis online yang sesuai minat (fashion, photography, food, automotive, stamps, dll).

Jika kita bisa menyicil hutang konsumtif selama ini, yang based on experience jumlahnya tidak pernah kecil, maka sebenarnya tanpa anda sadari anda memiliki kemampuan besar untuk berinvestasi dan mencapai tujuan keuangan anda dimasa yang akan datang.

Kalau anda bisa hidup tenang tanpa utang kenapa harus berutang?

Yosephine P. Tyas S.Kom, MM, RFA®
Senior Associate Advisor

Menunda Investasi? Jadi Miskin Lho.. (1)


http://images.detik.com/content/2013/05/28/722/aa2dalam.jpg
Jakarta - Masih banyak orang yang berpikir, sebenarnya butuh nggak ya layanan atau jasa seorang Perencana Keuangan? Banyak juga orang yang kemudian berpikir bahwa mereka merasa tidak memerlukan jasa Perencanaan Keuangan.

Sebagian dari mereka mungkin berpikir bahwa mereka telah memiliki rumah, harta warisan yang belum dibagikan, tabungan pensiun dari kantor, asuransi dari kantor, Jamsostek dan lain-lain. Akan tetapi apakah pernah terpikirkan oleh mereka apabila dana-dana tersebut benar-benar cukup untuk memenuhi kebutuhan keuangan mereka? Pernah nggak sih dilakukan perhitungan secara detil?

Sebagai contoh untuk tabungan dana pensiun.yang didapatkan dari kantor dengan model Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK), Anda mungkin tidak pernah tahu berapa besar perhitungan dana pensiun yang akan diterima nantinya di masa pensiun (kecuali bisa dihitungkan).

Padahal apabila dihitung maksimum yang bisa diterima dari tabungan pensiun tersebut misalnya adalah sebesar Rp 5 juta per bulan, karena perhitungan maksimal Penghasilan Dasar Pensiun (PhDP) adalah sebesar Rp 5 juta per bulan apabila karyawan tersebut mendapatkan 100% dari formula tersebut, yang sudah barang tentu hanya akan didapatkan oleh top executive dari perusahaan.

Apa jadinya apabila mereka hanya seorang manajer menengah? Atau bahkan karyawan dan staff biasa saja.

Ini baru satu contoh saja dan kebetulan contohnya untuk investasi jangka panjang. Dan masih banyak rencana jangka panjang lainnya yang membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Nah, bayangkan apabila dari awal Anda sudah salah dalam menempatkan dana anda. Sebagai contoh, dana pensiun yang diperlukan 20-30 tahun lagi Anda tempatkan ke tabungan yang hanya memberikan rata-rata 2-5% bunga per tahun.

Kesalahan ini fatal, karena dengan rata-rata inflasi yang tinggi sementara bunga tabungan dana pensiun yang rendah menyebabkan Anda mungkin tidak bisa mencapai target dana pensiun yang Anda inginkan. Semakin fatal ketika Anda baru mengetahui ketika sudah terlanjur atau telat, misalkan sudah berjalan 5, 10 atau bahkan 15 tahun kemudian.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, investasi khususnya di produk keuangan/pasar modal membutuhkan waktu yang cukup panjang dan dilakukan secara rutin agar investasi kita bisa berkembang.

Semakin dekat jarak waktu investasi kita, maka semakin besar dana yang harus dicicil setiap bulannya. Itulah sebabnya sangat penting untuk kita mulai melakukan perencanaan keuangan dan investasi dari sekarang, dan dilakukan dengan cara dan perhitungan yang benar.

Di tulisan edisi berikutnya akan saya berikan contoh perbedaan nominal ketika kita terlambat atau menunda melakukan perencanaan keuangan dan investasi.

5 Cara Mudah Menghemat Uang

http://images.detik.com/content/2013/05/28/4/075244_35.jpg
Jakarta - Kebiasan buruk manusia keuangan adalah tidak menyisihkan banyak uang untuk masa tua. Saat muda, manusia biasanya lebih senang berfoya-foya.

Tapi, banyak juga yang tetap menyisihkan uang dengan cara memangkas pengeluaran tiap bulan khusus untuk masa tua. Beberapa cara baru ini bisa membuat Anda menyimpan/menghemat pengeluaran bulanan yang akhirnya uangnya bisa ditabung.

Berikut 5 cara mudah menghemat uang seperti dikutip dari Learnvest, Selasa (28/5/2013).

1. Kurangi saluran TV berbayar yang jarang ditonton

http://images.detik.com/content/2013/05/28/4/075330_hemat001.jpg
Banyak orang membayar mahal untuk TV kabel tiap bulan, padahal tidak semua salurannya ia tonton. Secara rata-rata, orang hanya menonton lima saluran favorit saja, jadi mengapa harus membayar lebih?

Dengan cara ini Anda bisa menghemat Rp 50.000 hingga Rp 120.000 per bulan tergantung saluran apa saja yang dihilangkan. Opsi pertama adalah memilih saluran TV berbayar yang benar-benar Anda butuhkan. Cara kedua adalah mencari paket langganan yang benar-benar tepat untuk Anda.

Atau Anda bisa menghentikan sama sekali layanan TV berbayar. Masih banyak rumah tangga yang hanya mengandalkan siaran televisi swasta, dan mereka sama sekali tidak keberatan dengan itu.

Atas keputusan mereka untuk tidak menggunakan layanan TV berbayar bukan berarti mereka akan ketinggalan informasi, mereka tetap bisa memantau melalui internet atau telepon seluler, dengan menggunakan situs-situs berita dan informasi.

2. Jangan sering ganti kendaraan

http://images.detik.com/content/2013/05/28/4/075354_hemat002.jpg
Menurut survey terakhir, masyarakat dengan tingkat menengah dan menengah ke atas setidaknya membeli mobil empat kali dalam masa hidupnya. Meskipun sudah menjadi standar industri untuk membeli mobil baru setiap empat sampai lima tahun, tapi hal ini tidak harus menjadi kewajiban.

Rawatlah kendaraan Anda dengan baik sehingga tidak perlu membeli mobil atau motor dalam empat atau lima tahun sekali. Semakin baik Anda merawat kendaraan maka semakin awet pula umurnya.

Jika memang terpaksa mengganti kendaraan, mobil atau motornya tidak melulu harus baru. Banyak juga kendaraan bekas dengan harga lebih murah yang kualitasnya masih sama seperti baru.

3. Mengurangi penggunaan data di ponsel

http://images.detik.com/content/2013/05/28/4/075424_hemat003.jpg
Zaman sekarang, ponsel tidak hanya dipakai untuk telepon dan SMS saja tapi juga untuk tersambung ke internet. Ponsel pintar seperti ini harus diberi 'makan' dobel, yaitu pulsa biasa dan pulsa internet atau layanan data.

Masyarakat memang tidak begitu banyak menelepon dan mengirim SMS lagi sekarang ini, itulah masalahnya. Koneksi datalah yang terus meningkat. Maka dari itu kebiasaan ini harus dihentikan.

Ada trik untuk bisa mengurangi penggunaan data, seperti menonaktifkan push email secara otomatis, menggunakan Wi-Fi daripada bukan 3G dan lain-lain.

4. Kurangi makan di restoran/cafe

http://images.detik.com/content/2013/05/28/4/075455_hemat004.jpg
Sudahkah Anda mengurangi pengeluaran untuk makan di luar alias di restoran? Berdasarkan survey tahun 2012 oleh Harris Interactive, sebanyak 71% responden memilih untuk menyimpan uang dengan memasak daripada makan di luar. Bahkan, 57% dari mereka mengatakan, masih pikir-pikir untuk makan di luar karena dianggao sebuah kemewahan.

Jangan dianggap remeh, dengan makan masakan rumah Anda bisa menghemat cukup banyak tiap bulan. Jika rata-rata tiap makan di restoran atau cafe satu orang bisa menghabiskan Rp 100.000, bandingkan dengan masa di rumah yang menghabiskan kurang dari Rp 50.000 sekali makan.

Makan di luar tidaklah dilarang, hanya saja jangan jadi kebiasaan. Makanlah di luar bersama keluarga satu minggu satu kali saja.


5. Menabung untuk masa pensiun

http://images.detik.com/content/2013/05/28/4/075530_hemat005.jpg
Sebuah survey April lalu oleh Fidelity Investments menemukan bahwa hanya 42% masyarakat yang sudah menyisihkan dana untuk pensiun. Ternyata memang tidak banyak orang yang sudah mempersiapkan hari tuanya.

Bagaimana caranya untuk memulai hal ini? Pertama, cari jenis simpanan yang cocok bagi Anda. Setelah itu tentukan dana yang ingin Anda sisihkan setiap bulannya, lanjutkan dengan menambah jumlah simpanan sebanyak 2% saja tiap bulannya.

Karena tabungan pensiun Anda telah mulai diinvestasikan, dan ditambah dengan bunga dan sedikit peningkatan, semua ini ini akan menghasilkan sesuatu yang besar di kemudian hari.