10 September 2013

Kontestan Miss World Lepas Anak Penyu di Pantai Kuta


PADANG – Pemerintah seharusnya bisa memanfaatkan pergelaran Miss World 2013 untuk memperkenalkan Indonesia sebagai tujuan wisata dunia. Apalagi, ajang internasional tersebut disiarkan sekitar 160 negara.

Sayangnya bukannya memaksimalkan promosi pariwisata, pemerintah malah sibuk berpikir soal lokasi acara. Pandangan ini disampaikan mantan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Wiranto merespons keputusan pemerintah merevisi izin keamanan terhadap penyelenggaraan ajang Miss World, dan hanya mengizinkan pelaksanaan rangkaian kontes tersebut di Pulau Bali, termasuk malam final yang awalnya direncanakan digelar di Bogor, Jawa Barat.

“Mengapa pemerintah melarang acara puncaknya di Bogor. Apa bedanya Bali dengan provinsi lain? Pemerintah seharusnya bisa menjamin keamanan di mana pun. Kalau begitu jangan salahkan kalau dunia hanya mengenal Bali sebagai tujuan wisata di Indonesia,” ujar Wiranto seusai membuka pembekalan calon legislatif Hanura di Padang kemarin. Menurut Wiranto, menjadi tuan rumah acara bertaraf internasional seperti Miss World tersebut tidak mudah. Indonesia semestinya bangga karena banyak negara yang memperebutkan acara tersebut agar bisa terselenggara di negara mereka, tetapi tidak berhasil.

“Kita harusnya bangga, dipercaya dunia internasional dan kita bisa ambil kesempatan ini untuk mendongkrak devisa kita melalui promosi pariwisata,” kata Wiranto. Dia kemudian mengajak masyarakat menilai secara utuh bagaimana acara Miss World berlangsung, mulai pembukaan yang berlangsung kemarin hingga acara penutupan pada final nanti. Dengan demikian, masyarakat tidak akan terjebak persepsi salah yang dihembuskan oleh sejumlah kalangan.

“Tidak ada yang melanggar etika dan menyalahi undang-undang pornografi seperti yang disebut-sebut sejumlahormas. Jadimari samasama kita menjaga kondusivitas dan ketertiban dalam negeri,” kata mantan panglima TNI yang maju sebagai kandidat presiden ini. Sebelumnya dalam keterangan persnya, CEOMNCGrupHary Tanoesoedibjo (HT) mengaku masih akan melakukan komunikasi dengan pemerintah pusat terkait direvisinya izin pelaksanaan Miss World di Bogor dan Jakarta.

Pasalnya, mencari tempat baru untuk final kompetisi internasional itu di Bali pada 28 September 2013 sulit karena berdekatan dengan KTT APEC awal Oktober 2013. Apalagi, pihak panitia sudah menyiapkan Miss Worldselama tiga tahun. HT juga memastikan acara tersebut tidak akan menampilkan hal-hal di luar norma dan budaya Indonesia. “Miss World harus mengikuti aturan, adat, dan budaya Indonesia. Tidak boleh ada buka-bukaan seperti menggunakan bikini,” kata HT. Sejak awal digelar, ajang Miss World memang menjadi ajang promosi budaya Indonesia.

Bahkan, ChairwomanMissWorld Organization Julia Morley mengatakan ada misi dunia yang juga diusung Miss World, yakni memajukan negara-negara pesertanya. Salah satunya dari sisi pariwisata. Senada dengan Morley, Gubernur Bali I Made Mangku Pastika memandang perhelatan Miss World merupakan media promosi yang efektif untuk lebih mengenalkan pariwisata dan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia. “Bayangkan jika acara ini disiarkan ke 160 negara, berarti ditonton dua miliar orang di dunia. Jadi, kita tidak perlu promosi ke manamana,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua LSM Bali Sruti Dr Luh Riniti Rahayu mengajak masyarakat harus berpikir holistis terhadap kontes ratu kecantikan “Miss World”, sehingga tidak dianggap sebagai ajang eksploitasi kaum perempuan. “Miss World adalah ajang pemilihan perempuan yang unggul pada berbagai bidang dan tidak hanya dari kecantikan fisik,” kata ketua LSM yang fokus membidangi persoalan perempuan itu di Denpasar kemarin.

Dukung Pelestarian Penyu

Dari Bali, seusai pembukaan Miss World 2013 di Mangupura Ballroom, Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali, para kontestan memulai hari dengan melepas tukik di Pantai Ikan, Westin Resort, Nusa Dua. Ratusan tukik yang dilepas para kontestan Miss World 2013berasal dari telur-telur penyu yang bersarang di sepanjang Pantai Kuta. MNC Group menggandeng komunitas Bali Sea Turtle Society (BSTS) dalam program tersebut.

Chairman BSTS I Wayan Wiradnyana menyebutkan, selama beberapa tahun terakhir banyak penyu yang bertelur di kawasan Pantai Kuta. “Kami mengumpulkan telurtelur dari sarang penyu yang kami temukan di sepanjang Pantai Kuta,” ujar Wayan, yang menyebutkan tukik yang dilepas para kontestan ke lautan adalah jenis penyu lekang (Lepidochelys olivacea) yang kembali bertelur di sepanjang Pantai Kuta setelah 25 tahun absen. Wayan menambahkan, sejak 2002, BSTS telah mengumpulkan lebih dari 20.000 telur.

 “Kami kemudian membawa telur-telur tersebut ke penangkaran, dan 80% dari telur tersebut berhasil kami tetaskan dan lalu kami lepaskan kembali ke laut,” paparnya. Kepada para kontestan, Wayan mengajarkan untuk melepaskan tukik tersebut sejauh dua meter dari garis laut. Hal ini agar penyu bisa lebih dulu mengenal bau pasir dan kemudian kembali ke pantai untuk bertelur. Para wanita ayu dari seluruh dunia terlihat begitu antusias dan bersemangat melepas bayi penyu tersebut.

Miss Canada Camille Munro berharap dengan apa yang mereka lakukan, populasi penyu bisa tetap terjaga. Senada dengan Camille, peserta asal Haiti, Ketsia Lioudy Iciena, mengatakan senang bisa ikut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian alam. “Saya senang bisa melepas penyu. Katanya mereka akan kembali 10 tahun lagi, saya tidak tahu apakah bisa bertemu lagi dengannya,” kata Ketsia. Program pelepasan penyu di kawasan Nusa Dua tidak hanya terjadi di Westin Resort. Beberapa waktu lalu, saat di Nusa Dua Beach Hotel dan Spa, kontestan juga melepaskan ratusan tukik ke laut.

Manajemen hotel mengatakan sudah beberapa tahun di kawasan Nusa Dua ditemukan beberapa sarang tempat penyu bertelur. Pihak hotel juga menggandeng Bali Sea Turtle Society untuk membantu mereka melindungi sarang dari gangguan agar telurtelur tersebut bisa menetas sempurna. Kepedulian para kontestan Miss World terhadap usaha pelestarian penyu di Bali sangat beralasan. Pasalnya, Bali di tahun 1970-an pernah dikenal sebagai daerah pengonsumsi penyu terbesar di Indonesia.

Akibatnya jumlah populasi penyu di Bali turun drastis. Kembalinya penyu ke pantaipantai di Bali untuk bertelur tentu menjadi kabar gembira. Hal tersebut berkat usaha keras pemerintah, LSM, juga masyarakat yang terus berusaha menghilangkan citra negatif tersebut dengan menggalakkan usaha pelestarian penyu. Mulai tahun 2000, operasi penegakan hukum terhadap perdagangan/pemanfaatan penyu di Bali terus dilakukan BKSDA Bali bekerjasama dengan Polair Polda Bali berhasil menyita 1.100 ekor penyu dan 450 butir telur penyu lekang, penyu hijau, serta beberapa ekor penyu sisik.

Selain menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan, para peserta Miss World 2013 juga memperlihatkan kekaguman mereka akan budaya Indonesia. Mereka terlihat begitu antusias saat disuguhi tarian khas Bali dalam acara makan malam di Bali Nirwana Resort, Tanah Lot, begitu juga ketika belajar menarikan tari Kipas Cendana yang merupakan kombinasi beberapa budaya Nusantara, seperti Jawa, Sunda, dan Bali. Miss Nepal Ishani Shresta mengatakan, dirinya berada di sebuah ajang yang sangat spesial.

“Saya datang ke satu negara, tapi saya belajar tentang banyak budaya,” katanya. Gadis yang baru saja ditunjuk sebagai duta muda untuk konservasi dari World Wildlife Fund (WWF) di Nepal ini, juga mengungkapkan dirinya begitu takjub akan kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. “Saya sudah mendengar tentang kekayaan budaya Indonesia, tapi saya tidak menyangka sudah begitu banyak yang saya lihat selama satu minggu, padahal itu hanya di Bali,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, kontestan asal Belanda Jacqueline Steenbeek mengatakan bahagia akhirnya berkesempatan datang ke Indonesia. “Belanda dan Indonesia punya sejarah yang panjang, ini kesempatan saya untuk belajar banyak tentang budaya Indonesia,” tutur gadis berambut ikal tersebut. Selain itu, Jacqueline juga mengatakan bahwa Miss World memiliki filosofi yang sama dengan Indonesia. ● lesthia kertopati/ant

0 comments:

Posting Komentar