22 September 2013

Lantana Camara, Pesona Bunga Pagar yang Bernilai Ekonomi

Kembang Waung atau Lantana Camara
SAYA mengetahui nama keren dari bunga ini baru beberapa hari terakhir. Namun demikian, bunga itu cukup akrab dan familiar dengan kehidupan saya sejak kecil. Buah atau bijinya yang masih muda biasa saya pakai sebagai peluru untuk mainan perang-perangan dengan senjata (bedil) yang  terbuat dari ranting bambu dengan diameter seukuran jari-jari tangan orang dewasa. Atau senjatanya berupa bambu wuluh, dan untuk menembaknya, bji-biji dari tanaman ini di masukan mulut sebelum disemburkan lewat bambu wuluh.

Bunga yang dihasilkan sangat indah dan mempesona dengan beragam jenis yang menghasilkan bunga yang beragam pula. Bahkan untuk jenis-jenis tertentu, misalnya yang menghasilkan warna kuning dan putih, mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Apalagi jika satu batang tanaman yang kemudian disambung dengan beragam jenis sehingga satu pohon bisa menghasilkan beragam warna bunga, harganya bisa berkali lipat. Ini seperti yang dilakukan beberapa kawan di kampung halaman yang menanam tanaman ini dalam pot dan kemudian satu batang utama yang bercabang disambung dengan beberapa tanaman ini dengan jenis yang berbeda sehingga bisa menghasilkan aneka warna bunga.

Lantana Camara atau Kembang Waung Warna Merah (Foto: dok. pribadi)

Lantana Camara, demikian nama keren bunga itu. Di kampung saya biasa disebut dengan kembang waung. Beberapa literatur di web ataupun blog menyebut tanaman ini dengan bunga telekan atau tahi ayam karena baunya yang menyengat seperti kotoran ayam. Padahal setahu saya, tanaman ini bahunya harum dan tidak berbau seperti kotoran ayam. Ada memang bunga yang disebut telekan atau tahi ayam dengan bau yang menyengat, tetapi bukan seperti bunga yang saya maksud ini.

Bunga telekan yang saya tahu bentuknya pendek dan benar-benar hanya sebagai bunga hias serta bersifat sekali tanam, artinya jika ditanam dan sampai berbunga maka akan segera mati mengering. Daunnya mirip dengan tanaman kenikir yang biasa dibuat sayuran atau lalapan. Sepertinya ada kesalahan pemberian nama dalam beberapa situs yang mengulas tanaman lantana camara ini. Gambar berikut yang saya ambil dari flickr.com adalah bunga telekan yang saya maksud, bukan seperti literatur-literatur yang menulisnya sebagai bunga lantana camara. Jadi sangat berbeda antara bunga lantana camara atau kembang waung dengan bunga telekan atau bunga tahi ayam.


Bunga Telekan, Bukan Bunga Lantana Camara (sumber: flickr.com)
Kembali ke kembang waung atau lantana camara, tanaman ini umumnya ditanam sebagai pagar atau pembatas kebun. Dengan ketinggian bisa lebih dari 2 meter dan batangnya yang berduri, sangat cocok untuk pagar pengaman. Aroma daunnya juga sangat khas dan permukaannya sedikit kasar. Bentuknya bulat telur dan berujung runcing dengan lebar daun beragam, ada yang besar dan ada yang kecil tergantung jenisnya. Meski katnya beracun, tetapi daun lantana camara yang muda oleh orang-orang dikampung biasa dimanfaatkan sebagai campuran makanan ternak (kambing).
Setelah saya membaca beberapa literatur, saya jadi ragu untuk menuliskan manfaat atau khasiatnya sebagai obat. Ini karena tulisan-tulisan dalam web atau blog yang saya temukan menyebutnya tidak sesuai dengan gambar bunga yang dimaksud. Juga tulisan-tulisan itu menyebutnya sebagai tanaman beracun. Padahal kalau tanaman ini beracun, sudah pasti orang-orang di kampung saya tidak menjadikan daunnya sebagai pakan ternak kambing. Demikian juga dengan kebiasaan saya dan teman-teman kecil saya yang menjadikan biji-bijinya sebagai peluru yang seringali dalam permainan perang-perangan menaruh dalam mulut sebelum disemburkan dengan bambu wuluh yang berbentuk pipa.

Jadi untuk sementara manfaat tanaman ini setahu saya hanya sebatas sebagai pagar, bunga hias yang bernilai ekonomi tinggi dan daunnya sebagai pakan ternak kambing disamping biji-bijinya sebagai sarana permainan.Untuk manfaat pengobatan, sekali lagi karena simpang-siurnya literatur yang saya dapatkan, untuk sementara belum bisa saya tuliskan di sini.

0 comments:

Posting Komentar