30 Juni 2013

Pasar Asia Menunggu Laporan Data Terbaru

Pasar Asia Menunggu Laporan Data Terbaru
Pasar saham Asia mulai memasuki paruh kedua 2013 dengan pengamatan para investor mengenai sentimen bisnis di Jepang dan China, yang sedang mengalami masalah kesehatan ekonomi masing-masing.

Seperti diberitakan CNBC, perdagangan saham berjangka Jepang mendorong indeks Nikkei untuk bisa mencapai level tertinggi baru dalam kurun tiga pekan terakhir. Indeks acuan bursa Jepang ini diperdagangkan pada level 13.705 di bursa berjangka Chicago, sedikit lebih rendah dari penutupan sebelumnya di Osaka 13.740.

Indeks menguat lebih dari 3 persen pada Jumat pekan lalu, sehingga mencapai level 13.677, mengakhiri paruh pertama 2013 dengan kenaikan 31 persen.

Yen berada di posisi 99,35 per dolar di awal perdagangan Asia. Posisi ini menguat dari Jumat pekan lalu yang mencapai 99,44 per dolar. Kondisi ini bisa mendukung kenaikan Nikkei.

Sementara itu, indeks patokan bursa Australia, S&P ASX 200, dibuka lebih rendah dengan harga perdagangan berjangka indeks saham lokal didiskon 40 poin dari penutupan sebelumnya di level 4.802.

Pasar menunggu hasil survei Tankan di Jepang mengenai sentimen bisnis yang akan dirilis hari ini.

Sebuah jajak pendapat di Reuters memperkirakan sentimen korporasi berubah positif setelah Perdana Menteri Shinzo Abe menerapkan kebijakan radikalnya yang dikenal dengan julukan "Abenomics" untuk memacu pertumbuhan ekonomi.

Laporan aktivitas manufaktur utama China untuk Juni juga akan dirilis pekan ini. Analis memperkirakan Indeks Pembelian Manajer (Purchasing Managers' Index/PMI) akan berada di kisaran 49 dan 50. PMI pada Mei lalu sebesar 50,8 sebagai sinyal kegiatan industri melambat di tengah kekhawatiran kelebihan kapasitas dan lemahnya permintaan.

Angka PMI di atas 50 menunjukkan adanya aktivitas ekspansi, sedangkan angka di bawah 50 adalah sinyal kontraksi.
Wall Street
Sementara itu, saham-saham di bursa Wall Street berakhir pada posisi yang dekat dengan level terendah pada sesi perdagangan Jumat, pekan lalu. Namun, ketiga indeks utama mengakhiri kuartal kedua yang bergejolak dengan meraih keuntungan.
Indeks Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 membukukan kinerja terbaik pada semester pertama mereka, Nasdaq pun melonjak hampir 13 persen untuk semester pertama.

Kekhawatiran mengenai penarikan stimulus moneter dari Federal Reserve bisa melukai sentimen di Asia. Jumat lalu, Gubernur The Fed, Jeremy Stein, menyoroti pertemuan pada September mendatang, yang akan merumuskan kemungkinan kebijakan untuk mempertimbangkan langkah bank sentral dalam program pembelian obligasi.
Stein juga menyebutkan bahwa bank sentral AS harus mempertimbangkan perbaikan ekonomi secara keseluruhan.

Komentar Stein ini bertentangan dengan para pembuat kebijakan The Fed lainnya, yang telah menyarankan bank sentral itu menunggu waktu yang tepat untuk menarik kembali program pembelian obligasi. (art)

0 comments:

Posting Komentar