07 Juli 2013

Awas, Internet Anda Diintai Amerika



Pesawat yang membawa Presiden Bolivia, Evo Morales, dari Moskow, Rusia, harus turun di Wina, Austria, Selasa 2 Juli 2013. Bahan bakarnya cekak, dan celakanya tak bisa terbang memutar menghindari wilayah udara Prancis dan Portugal. Entah apa sebabnya, dua negara Eropa itu tiba-tiba tak mengizinkan pesawat ini terbang di langit mereka.

Ironis. Pesawat Morales harus mencium landasan di bandara Wina, kota yang pada 1961 mencatat satu konvensi bahwa pesawat pembawa presiden atau kepala negara tak bisa disuruh mendarat paksa. “Ini penculikan,” kata Wakil Presiden Bolivia Alvaro Garcia saat bertemu jurnalis menceritakan kejadian ini.

“Mereka menyatakan ada problem teknis. Tapi setelah mendapatkan penjelasan dari pihak berwenang, kami tahu itu akibat kecurigaan tak beralasan mereka bahwa Edward Snowden ada di dalam pesawat,” kata Menteri Luar Negeri Bolivia, David Choquehuanca.

Di Moskow, Morales yang beraliran politik kiri ini, memang sempat berbicara tentang Edward Snowden, mantan pekerja National Security Agency (NSA) Amerika Serikat, yang membocorkan aksi intelijen AS menyadap internet dunia. Snowden saat ini dalam posisi “limbo” di Bandara Moskow.  Paspornya dicabut AS. Permohonan suakanya ke belasan negara juga belum jelas. Morales menyatakan, jika Snowden meminta suaka ke negerinya, dia akan mempertimbangkan (Lihat Infografik: Kisah Sang Whistleblower).

Morales pun terpaksa menanti di ruang tunggu Bandara Wina, hingga pemerintah Austria memberikan izin terbang.  Sejumlah petugas Austria terlihat menggeledah pesawat kepresidenan yang ditumpangi Morales untuk mencari Snowden. Pihak Austria mengatakan kendati Morales kesal, dia membiarkan pesawatnya digeledah pejabat berwenang Austria. Hasilnya, tak ada Snowden di pesawat itu. Hanya ada orang-orang Bolivia. 

"Kami yakin itu perintah Gedung Putih. Tanpa alasan jelas sebuah pesawat diplomat pengangkut Presiden tiba-tiba dapat diminta mengalihkan rute ke negara lain, dan dipaksa mendarat di sana," ujar Duta Besar Bolivia untuk PBB, Sacha Llorenti Soliz.

Sementara pemerintah Prancis, Italia, Portugis dan Spanyol disebut oleh Menteri Luar Negeri Bolivia, David Choquehuanca, telah melanggar hukum internasional kompak menepis anggapan itu. Pemerintah sejumlah negara itu membantah menghalangi pesawat Morales lewat di langit mereka. Menlu Prancis, Philippe Lalliot, mengatakan pesawat Morales punya izin terbang melintas wilayah udara Prancis.

Sementara di Amerika Latin, para pemimpin di sana, ramai mengutuk “pendaratan paksa” pesawat Morales ini. “Amerika Latin meminta penjelasan,” kata Presiden Ekuador Rafael Correa. Dan dua hari kemudian, para pemimpin Amerika Latin ini berkumpul, menyatakan “serangan” atas Morales adalah serangan atas Amerika Latin.

“Bola Salju” Snowden

Adalah Edward Snowden yang menendang bola salju ketegangan banyak negara dengan Amerika Serikat. Pria kelahiran Elizabeth City, North Carolina 21 Juni 1983 ini empat tahun terakhir bekerja di sejumlah kontraktor NSA.

Tugas Snowden adalah melakukan “infrastruktur analisis”, sebuah pekerjaan yang menurutnya bisa mengambil data pengguna internet. Pada Mei 2013, Snowden memutuskan hengkang dari tempatnya bekerja di Hawaii, melupakan gaji nyaris Rp2 miliar setahun, lalu bertolak ke Hong Kong (Lihat bagian 3: Memburu si Epilepsi).

“Akal sehat saya tak bisa membiarkan pemerintah Amerika Serikat menghancurkan privasi, kebebasan berinternet, dan kebebasan asasi manusia sedunia dengan mesin mata-mata massif yang mereka bangun secara rahasia,” kata Snowden kepada wartawan The Guardian, Glenn Greenwald, yang bertemu dengannya di Hong Kong. Belakangan Greenwald mengaku, sudah berhubungan dengan Snowden sejak Februari 2013.

Sebelum bertolak ke Hong Kong, putra dari seorang ayah yang bekerja di militer AS ini, sempat menyalin sejumlah dokumen yang kemudian dia bocorkan. Dia meminta izin ke atasannya pergi “beberapa minggu” untuk mengobati epilepsinya. Pada  20 Mei, dia pun tiba di Hong Kong.

Snowden menyerahkan sejumlah dokumen ke Greenwald.  “NSA punya akses langsung ke sistem Google, Facebook, Apple dan raksasa internet Amerika Serikat lainnya, berdasarkan dokumen rahasia yang diperoleh Guardian,” tulis Greenwald.

Dokumen itu membongkar program bernama Prisma. Seperti namanya,  program ini merujuk pada prisma yang membiaskan cahaya. Dengan Program itulah NSA menyadap search history, isi e-mail, transfer file, percakapan, bahkan percakapan video sekalipun. Dokumen dalam bentuk 41 slide powerpoint ini menurut Guardian adalah dokumen pelatihan tenaga intelijen.

Snowden juga punya data, Government Communication Headquarters (GCHQ), mitra NSA di Inggris, juga melakukan yang sama. Dokumen itu menyatakan, GCHQ menghasilkan 197 laporan intelijen berdasarkan program Prisma dari NSA.
Sistemnya, GCHQ bisa mem-bypass proses legal formal mengakses material pribadi seperti e-mail dan foto dari perusahaan-perusahaan raksasa internet. Program GCHQ ini bernama Tempora.

Di AS, akses NSA ini didapat setelah revisi UU Mata-mata yang dilakukan Presiden George W Bush, dan lalu diperbarui Presiden Barack Obama pada Desember 2012. Program ini memfasilitasi pengintaian  mendalam, dan luas atas komunikasi langsung dan informasi tersimpan.

Undang-undang itu menargetkan siapapun yang memakai salah satu jasa dari sembilan perusahaan internet raksasa yang bekerjasama dengan NSA. Dalam dokumen dilansir Washington Post, setidaknya 51 persen dari ratusan ribu pengguna internet yang aktif dimata-matai adalah warga negara non-AS.

Dokumen presentasi itu menyebut, Microsoft yang berslogan “Privasi Anda adalah Prioritas Kami” ternyata yang pertama ikut program ini di Desember 2007. Lalu Yahoo di 2008; Google, Facebook dan PalTalk di  2009; YouTube di  2010; Skype dan AOL in 2011; dan akhirnya Apple di 2012. Semua perusahaan ini jika digabung, melayani hampir semua macam transaksi internet, mulai dari pencarian, e-mail, chat, videochat, voice over IP, dan penyimpanan data.

Para raksasa internet itu membantah memberikan “akses” ke server mereka ke NSA. “Google tak punya pintu belakang untuk pemerintah mengakses data pengguna pribadi,” kata Google dalam sebuah pernyataan.

Google bahkan mengajukan permohonan ke pengadilan, untuk membuka data permintaan NSA atau penegak hukum AS ke publik. Yahoo dan Facebook juga senada, hanya memberikan data pengguna jika diperintahkan oleh lembaga penegak hukum.

Seorang konsultan keamanan menyatakan, penyadapan bisa dilakukan tanpa ada akses langsung ke server perusahaan itu. NSA bisa memanfaatkan kabel serat optik atau link backbone Internet yang dioperasikan perusahaan seperti AT&T, CenturyLInk, XO Communications, Verizon, dan Level 3 Communications.

Praktik penyadapan itu terungkap dalam dokumen gugatan Electronic Frontier Foundation tahun 2006. Pada dokumen ini, teknisi AT&T menyaksikan trafik Internet dan suara ponsel domestik diam-diam dialihkan ke ruangan khusus yang hanya bisa diakses teknisi NSA.

Penyadapan akan lebih mudah jika perusahaan jasa internet itu tak memakai sistem enkripsi. Enkripsi itu adalah wujud perlindungan penyedia yang biasanya berupa koneksi 'http' disertai gambar gembok. Google Mail telah memakai enkripsi itu sejak 2004, dan kemudian diikuti Yahoo Mail.

Namun, pada langkah selanjutnya, seperti dilansir CNet, pesan surel yang ditransfer dari server salah satu perusahaan ke server perusahaan lain, pesan surel itu jarang dienkripsi. Misalnya, pesan surel pengguna Facebook menuju pengguna Yahoo Mail, akan dikirim dalam bentuk tak terenkripsi melalui koneksi server ke server, tanpa perlindungan pengawasan.

"Perusahaan benar-benar tidak mencoba menerapkannya," kata Ashkan Soltani, konsultan keamanan independen yang menyoroti kelemahan keamanan di Twitter.

Sebuah riset penyedia e-mail populer menunjukkan Google memakai enkripsi super, yang dikenal SMTP-TLS (Simple Mail Transfer Protocol Transport Layer Security). TLS sendiri sudah dipublikasikan sebagai kesepakatan protokol Internet 1999. Enkripsi itu sepenuhnya melindungi koneksi pengguna asalkan server perusahaan lain bersedia mengenkripsi juga.

SMTP-TLS juga digunakan melindungi e-mail karyawan di perusahaan yang sadar tentang keamanan, seperti kantor pengacara, Gedung Putih, Departemen Dalam Negeri, bahkan juga NSA.

Ironisnya, hanya Google yang menggunakan enkripsi ini. Nah, Facebook, Hotmail, Yahoo Mail, dan AOL Mail tidak menerima e-mail masuk dalam bentuk enkripsi SMTP-TLS. Dengan demikian ratusan juta komunikasi pribadi pengguna rentan terhadap penyadapan.

"Saya rasa Google adalah salah satu perusahaan besar yang peduli dengan kerahasiaan," kata Dan Auerbach, staf teknologi pada Electronic Frontier Foundation di San Francisco. "Kami pikir enkripsi seharusnya didukung semua server e-mail," dia menambahkan.

Juru bicara Facebook menjelaskan mengapa enkripsi ke luar belum diterapkan. "Facebook saat ini mendukung enkripsi user ke user. Saat ini kami tidak mendukung enkripsi server ke server karena kami belum melihat adopsi luas protokol itu," kata Facebook.

Yahoo juga turut angkat bicara. "Di Yahoo, kami melakukan investasi besar dalam keamanan pengguna, dan kami terus mencari peningkatan kapasitas keamanan produk kami," kata juru bicara Yahoo.

Seorang wakil Microsoft mengatakan perusahaan tak mendukung server-ke-server SMTP-TLS untuk produk konsumen termasuk Outlook.com, dan Hotmail.com. AOL sementara menolak berkomentar.

Belakangan, akses ke Guardian pun ditutup militer AS untuk lingkungan mereka demi “kebersihan jaringan”.

Diperluas Obama

Guardian menyebut, aksi pengintaian atas internet ini adalah imbas dari serangan bom ke Gedung WTC pada 11 September 2001. Awalnya program ini dikembangkan untuk memata-matai pertukaran informasi dari satu pihak di AS dengan orang asing. Tahun 2007, di bawah pemerintahan Bush, dikembangkan lebih jauh. NSA bisa mengumpulkan data alamat, dari atau ke mana pesan dikirim.

Juru bicara Direktur Intelijen Nasional AS, Shawn Turner, menyatakan, program ini sudah dihentikan di tahun 2011. Namun dokumen yang diungkap Snowden ini jelas membantah pernyataan itu.

Bahkan, mantan Direktur NSA Michael Hayden menyatakan, program pengintaian ini telah “dikembangkan” di era pemerintahan Obama. Kini lembaga itu, kata Hayden, lebih berkuasa daripada di era dia menjabat di zaman Presiden George W Bush.

Tindakan pengintaian AS ini jauh melampaui teritori negaranya. Menurut dokumen NSA yang diperoleh dari majalah Der Spiegel, Jerman, Uni Eropa sudah lama dijadikan target oleh agen mata-mata AS. 

Cara kerja agen mata-mata AS yaitu dengan menyadap jaringan komputer internal di Washington, dan 27 negara anggota lainnya di New York. Target penyadapan AS juga meliputi gedung Kedutaan Besar Prancis, Italia dan Yunani di Negeri Paman Sam. Bahkan negara sekutu AS termasuk Jepang, Meksiko, Korea Selatan, India dan Turki tak luput menjadi target penyadapan.

Dalam dokumen yang diperoleh Spiegel, AS mengkategorikan Jerman sebagai mitra “kelas tiga” dengan skala pengintaian yang sama dengan China, Irak dan Arab Saudi. Rata-rata sehari, NSA memonitor 20 juta koneksi telepon Jerman, dan 10 juta set data internet. Di Prancis, AS menyadap 2 juta koneksi sehari.

Jelas saja, banyak politisi di Eropa mengecam aksi mata-mata ini. Bahkan sejumlah lembaga yang memperjuangkan perlindungan data pengguna berencana menggugat Google karena keteledoran ini. Pejabat kejaksaan Eropa, telah menulis surat ke Jaksa Agung AS meminta penjelasan soal program mata-mata Prism ini.

Namun ada juga yang membela. Kanselir Jerman Angela Merkel membela Amerika Serikat, menyatakan tindakan itu telah membantu mencegah serangan teroris ke negeri Jerman.

Dalam sebuah wawancara dengan televisi RTL, Senin 17 Juni 2013, Merkel menyatakan akan meminta detail program mata-mata AS yang berkode nama PRISM itu. Merkel menyatakan program ini perlu untuk memerangi terorisme. Tahun 2007, intelijen AS bahkan memberi petunjuk ada sel "Sauerland" yang akan melakukan serangan atas target AS di Jerman.

"Saya memikirkan pembunuhan Sauerland itu," kata Merkel. "Kita tak akan menemukan mereka tanpa adanya informasi dari sumber Amerika," katanya dilansir lagi oleh Reuters.

"Kita agak tergantung dalam hubungan itu namun kita harus memastikan bisa bertindak sendiri dan tidak ada ampun bagi teroris,” kata Merkel. Jerman sebetulnya sangat sensitif dengan segala bentuk pengawasan negara akibat trauma dengan Stasi, polisi rahasia era Jerman Timur yang dulu memata-matai rakyat.

Di Indonesia, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring menyatakan penyadapan atas pengguna internet dari Indonesia jelas melanggar hukum Indonesia.

Tifatul menyatakan, pemerintah AS harus mengklarifikasi tuduhan yang dilancarkan Edward Snowden itu. "Kalau ada dua orang berbicara melalui jaringan internet, lalu disadap orang lain, itu melanggar hak asasi manusia," kata Tifatul Sembiring kepada VIVAnews, Kamis 4 Juli 2013. Tindakan itu, kata Tifatul, bisa dikenakan Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Di AS, lembaga intelijen sepertinya berusaha mendapatkan simpati dengan program ini. Kantor berita Reuters mendapatkan dokumen berisi 300 hasil penyadapan telepon atas tersangka teroris.

Salah satu hasil penyadapan itu berhasil membongkar upaya teror atas kereta bawah tanah New York di tahun 2009. Ada jutaan catatan telepon dikumpulkan AS di tahun 2012. Namun pihak berwenang AS menyatakan hanya mempelajari 300 di antaranya.

Namun ketakpercayaan pada AS, dan perusahaan berbasis di sana sudah meluas. Beberapa perusahaan server di Eropa menawarkan diri menjaga privasi pengguna dengan lebih baik. “Jika Anda akan memiliki seorang Big Brother, saya lebih memilih memiliki seorang Big Brother lokal daripada asing,” kata Mikko Hypponen, seorang petinggi perusahaan keamanan F-Secure yang berbisnis di negara-negara Nordik.

Big Brother adalah istilah yang muncul dalam novel “1984” karya George Orwell yang menceritakan tentang masyarakat yang diawasi sampai ke kehidupan pribadinya oleh “Big Brother”.(np)

Sumber: The Guardian, Washington Post, Reuters, MSNBC, Cnet, Der Spiegel

0 comments:

Posting Komentar