20 Juni 2013

Dari Barang Terbuang

130620_kerajinan-bonggol-jagung-190613-ah.jpg
Dari tiada menjadi ada, dan dari tidak mempunyai apa-apa kini memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. Cerita sukses ini menjadi bagian dari sejarah dan perjuangan hidup pemilik nama singkat Nurdin, kelahiran asli Kota Bandung, Jawa Barat.
Sekitar 15 tahun lalu selepas dari pendidikan sekolah kejuruan menengah di Bandung, tepatnya di STM Merdeka, Nurdin tidak memiliki sesuatu yang bisa dijadikan sebagai modal kerja. Maka jalan pintas untuk meraih hasil untuk berjuang hanya emperan jalan.
Tepatnya, menjadi pedagang kaki lima atau PKL. Namun itu hanya menjadi bagian kenangannya, karena ketika bergerak mengadu nasib ke Jakarta dan akhirnya berlabuh di Kota Hujan Bogor, terjadi perubahan nasib ke arah perbaikan ekonomi.
Karena hobinya terhadap seni sangat tinggi, maka pada 2003 Nurdin atau yang memiliki panggilan Bim Bim, lalu membuka rumah seni Bogor Kreatif. Meski pada awalnya sanggar itu sangat sederhana, namun disinilah titik balik keberhasilan Bim Bim.
Pelepah pisang, batu, kayu sampai batok kelapa yang terbuang percuma atau sampah, bahkan bisa diolahnya menjadi produk tertentu. Meski pendidikan formalnya terbatas, namun bakat seni yang dimiliki ternyata mampu mendorong daya imajinasi positifnya.
”Saya siap menjadikan sesuatu benda yang terbuang tanpa nilai menjadi uang. Ketika berstatus pedagang kaki lima, saya selalu mensiasati  agar usaha yang dijalankan berjalan tanpa perlu modal , dan ternyata bisa,” tutur Bim Bim kepada Bisnis.
Karena itu pula beberapa perlengkapan alat tulis dan kantor atau ATK, berhasil diciptakan Bogor Kreatif dengan menggunakan bahan baku pelepah pisang yang sudah kering. Bahannya tentu ada yang sudah kering dan basah sebelum diproses menjadi ATK.
Jika bahan bakunya masih basah, maka akan diproses melalui penghancuran serta kemudian diolah menjadi berbagai item benda sesuai jenisnya. Di tangan Bim Bim dan perajinnya, pelepah pisang ternyata bisa dijadikan apa saja untuk jadi bernilai ekonomi.
Yang menakjubkan dari kreasi Bim Bim adalah, setiap kali menemukan benda yang terbuang, tidak akan pernah lepas dari pandangannya. Lalu, benda itu akan dijadikan menjadi sesuatu yang layak dinikmati siapapun yang mencintai karya seni.
Ketika dia menemukan bambu terbuang di mana saja, sisa itu lalu dikumpulkan dan didaur ulang menjadi keranjang dan benda apa saja yang pada saat memulai berkarya, ide-ide inovatifnya muncul. Pohom bambu itu misalnya dijadikan asbak, tempat lilin dan lainnya.
Menempati gallery atau sanggar seluas 1.000 meter persegi, Bim Bim menyediakan produk yang berbahan dasar alami. Di antaranya, kertas terbuang, akar tanaman yang sudah mati, rumput-rumput liar dan masih banyak lagi.
Produk yang dihasilkannya bisa menjadi asesoris pernikahan berupa kotak seserahan, peralatan memasak seperti centong nasi, piring kayu, piring anyaman, alat permainan dari kayu, alat music tradisional.
Luar biasa memang. Namun demikian jangan pernah berasumsi jika bisnis yang ditekuninya hanya berorientasi pada uang. Sebagai seorang wirausaha sukses, Bim Bim membagi areal sanggarnya menjadi empat bagian.
”Kami juga menyediakan jasa pelatihan yang arahnya pada penciptaan wirausahawan. Misalnya workshop untuk kerajinan tangan, pelatihan pembuatan berbagai kerajinan demean sasaran anak-anak, remaja, dewasa, anak jalanan maupun yang tidak mampu.”
Sebagai wirausaha yang peduli terhadap peningkatan kualitas produk, maka Bim Bim tidak bisa menghindari permintaan pasar ekspor. Maka produknya pun sudah pernah dinikmati masyarakat penduduk dunia India, Belanda, dan Singapura.
Namun apa komentarnya tentang pasar ekspor?
“Sulit dan merepotkan, karena banyak permintaan mereka yang harus dipenuhi. Karena itu saya lebih memilih pasar lokal dan nasional untuk pemasaran produk ini. Saya bahkan bisa berkonsentrasi untuk lebih mengembangkan produk lain, ” ungkap Bim Bim.
Untuk operasional di galerinya, Bim Bim didukung 7 personil plus tenaga outsourcing di beberapa lokasi atau sentra di kawasan Bogor yang membantu proses produk Bogor Kreatif. Mereka membantu berdasarkan segmen dan kekuatan masing-masing dalam proses produksi.
Mengenang masa sulit yang telah dilaluinya, Bim Bim tidak terlalu peduli terhadap parameter kesuksesan yang diraihnya saat ini. Itu didasari keinginannya terjun ke industri kerajinan dan kreatif didorong jiwa seni.
”Kalau diukur dari omzet sangat Alhamdulillah, namun yang paling penting adalah kepuasan berekspresi. Apalagi saya sudah bisa tenang melakukan seluruh aktifitas bisa terfokus pada satu titik di Jalan Tentara Pelajar, Bogor,” papar Bim Bim.
Kepuasan itu bahkan mencapai kilmaksnya ketika dia mampu memberdayakan masyarakat untuk berkarya sebagai salah satu sarana untuk menjadi wirausaha baru untuk mengikuti jejaknya. Mempunyai  rumah adalah tujuan utama yang sudah bisa dipenuhinya untuk keluarga tercinta.
Dia membina masyarakat juga lebih didorong dari inisiatifnya sendiri. Karena itu Bim Bim juga bersedia mengeluarkan biaya dari koceknya sendiri untuk menjadikan setiap orang yang mau mengubah nasibnya menjadi wirausaha di sector industri kerajinan dan kreatif.
Sikap yang diambil Bim Bim yang tidak sepotong-potong membina masyarakat, karena dia merasakan bagaimana pahitnya perjalanan hidup apabila seseorang tidak memiliki ketrampilan. Itu sebabnya Bogor Kreatif memilih tagline Berkarya selagi kita masih bisa berkarya.
“Saya harus berbagi demean masyarakat tanpa harus memperdulikan omzet dari bisnis ini. Itu sebabnya saya juga menyediakan fasilitas café di galeri saya, agar anak-anak muda bisa terpancing menjadi wirausaha baru kreatif,” ungkap pemenang Pemuda Pelopor Kewirausahaan Nasional 2007 tersebut.
Meski ada perbedaan atau perubahan era yang tidak bisa dielakkan Bim Bim, namun dia tetap mengutamakan prinsip dasar lama yang membuat dia bisa menjadi seorang wirausahawan sukses seperti sekarang ini.
Perbedaan itu adalah, ada kewajiban membeli bahan baku, karena setiap benda apapun saat ini bisa dijadikan sebagai sumber pendapatan. Meskipun itu hanya beberapa ruas pohon bamboo atau batok kelapa.
“Saya masih terus mensiasatinya dengan prinsip atau konsep lama, yakni dengan mengeluarkan sedikit modal, tapi bisa menghasilkan keuntungan optimal. Sebagai contoh, dulu limbah pabrik masih bisa diminta tanpa membeli. Sekarang saya harus membeli, namun tetap saya tekan pada harga paling rendah.”

Editor : Fatkhul Maskur

0 comments:

Posting Komentar